Selasa, 12 April 2016

ZAWAWI IMRON : BUKAN KARYA SASTRA TAPI RASA SASTRA

Surabaya, 12/4 (Unitomo) - Sastra seperti hal nya sebuah fenomena yang ditulis langsung oleh pewarta informasi dengan panduan majas dan beberapa klenik kata dengan aroma khas surga dunia. Nah, sastra pun perlu diperhatikan oleh banyak kalangan masa kini, karena sastra mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi bermakna.

Anak muda adalah tumpuan untuk menjadi sastrawan-sastrawan baru Indonesia. Yang perlu dicatat adalah jadinya seorang sastrawan muda harus dengan hati yang bersih. Koordinasi antara hati nurani dan hati liar nafsu terhadap kepentingan-kepentingan.

Adanya setiap memo sastra dari seorang sastrawan muda dilandasi dengan jiwa nasionalisme, mengangkat budaya lokal dan menjadikan modernitas menjadi sesuatu yang menarik untuk bisa dinikmati banyak orang di seluruh Indonesia.

Mata air Indonesia telah menjadi darah, buah dan sayur Indonesia telah menjadi daging, susu dari hewan ternak Indonesia telah menjadi tulang, tanah Indonesia telah menjadi tempat bersujud dan udara Indonesia telah menjadi nafas bagi tubuh ini.
Ketika sastra yang menggambarkan tentang keindahan dari mata maka akan tercipta kesejukan di dalam jiwa. Maka tegaslah jiwa ini harus bersih dalam setiap untaian kata untuk mampu menceritakan sebuah peristiwa dari pandangan mata melalui jiwa dan dirangkum dalam tinta-tinta penuh makna.

Peribahasa yang terkandung dalam sastra mampu bercerita tentang megahnya Indonesia dan mampu menjadi bom waktu untuk menghancurkan Nusantara.

 Mari anak muda mulai berkarya untuk menjadikan dunia melihat melalui jendela bahasa tentang kemegahan Indonesia, ajak Zawawi Imron.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar